Welcome blog Mba Nana gengs!

Diario Area | Diario Travel | Diario Outfit | Diario Love | Diario Diario

Minggu, 03 Juni 2018

Seperti daun yang jatuh

Menatap cahaya jauh itu sulit sekali, mataku buram melihatnya, jauh jaraknya buatku tak bisa menatap lebih lama. Tetapi, kalau menetap pada cahaya adalah surga hati, aku akan berusaha semampuku, tanpa kenal lelah bahkan sampai darah penghabisan seperti para pejuang perang di masa lampau.

Ceritaku akan dimulai di sini, tepat dari sini. Orang yang lebih jangkung dariku serta lebih tua dariku dalam batas umur amat menarik dimata. Untuk melihat yang lain saja rasanya aku sungkan, pandanganku padanya sudah cukup buatku ambil kesimpulan pasti, bahwa suatu saat... mungkin kita akan dekat. Aku sedang berusaha seperti para pejuang sana.

Dia ternyata ku temui kehadirannya di salah satu pusat perbelanjaan bersama dengan keluarga. Aku tahu dia orang baik karena sedang berpergi dengan keluarga, ah tapi tidak juga. Lebih tepatnya, dia tahu menempatkan menjadi manusia baik di usia yang sudah dewasa. Aku juga dengan keluargaku. Karena sebelumnya sudah berkenalan dan dia meminta nomorku, lantas kami dekat seribu maut, aku tahu caranya merekatkan hubungan dengannya. Dia turun dari eskalator atas sementara aku masih diatas, ku teriaki namanya dan melambai padanya. Sontak keluarga kami masing-masing pun saling senyum dan melingkar tawa gurih pada sudut bibir masing-masing, tanpa di duga kami bisa bertemu di tempat lain, tapi tidak untuk bertemu dan mengobrol bersama. Itu hari pertama aku tersenyum padanya dengan ceria. 

***

Ibuku menceritakan padaku bahwa telah bertemu dengan rekan-rekan lainnya termasuk ada Ibunya dia di dalam kelompok itu, Ibu cerita kalau salah satu dari ibu-ibu lain menyodorkan ide untuk mengikatkan hubungan ku dengan anak itu, dia yang kuceritakan sedikit kisah kita di paragraf atas. Aku senang, lebih senang lagi kalau aku masih sendiri. Hanya seuntas senang yang terjadi dan hal itu tak akan terwujud. Disana ibuku juga cerita dimana tempat kerjaku yang baru, dan tahukah kalian bahwa suatu hari dia mendatangi tempat kerjaku yang baru itu. Melihatku mengambil segelas air, menyodorkan nampan, membantu teman yang sibuk ekspedator pelanggan yang datang dan dia sedang duduk menunggu pesanan yang sedang ku buat. Mulanya aku tak sadar, tapi ternyata, sungguh, itu dia, dia datang dengan pesanan yang di bungkus sembari menatapku lekat-lekat. Aku memalingkan muka menghadap kebelakang untuk kembali sibuk, aku mengacuhkan dia, aku malu ya ampun. Tapi untuk apa kerja halal tapi malu dilihat? Aku kembali tidak memusingkan hal itu. 

Malamnya sebelum tidur aku membaca pesan masuk di handphone, chat darinya! Dia bertanya sepintas tentang kerjaku, dia memberitahu bahwa dia melihatku. Ah aku sudah tahu itu. Hanya obrolan singkat. Ku tahu sepertinya manusia seperti dia bukan tipe mudah untuk menggait wanita pujaan. Buktinya bisa dilihat dari yang dia lakukan padaku. Hari ke hari berlalu tanpa gebrakan apapun lagi tentang kami, hingga akhirnya sebuah undangan tiba dirumahku. Dengan nama yang terpampang "Jaya dan Dina", ku buka setiap lembarannya, Ibu datangi ku "itu si jaya yang kata ibu-ibu tadinya mau dijodohin sama kamu, dia mau nikah". Aku tersenyum legit. Woaw ending cerita ini cepat sekali bung! 

"Kamu datang enggak? Datang ya temani Ibu"
Aku mengangguk. Aku bingung, apakah baik jalannya bila aku datang ke pernikahan itu. Tapi karena aku sudah terlanjur mengangguk, maka hadirlah aku dan Ibu. Acara telah dimulai tiga menit yang lalu tapi sang pengantin masih berbaris didepan ruangan sembari menunggu mentor selesai pembukaan yang sedang mengumumkan sesuatu. Pernikahan ini bukan di kua seperti pada umumnya, pernikahan ini di gereja tepatnya. Aku datang dengan terlambat, lantas berlari kecil untuk mencari bangku untuk di tempati, aku tahu dari arah kejauhan sana dia melihat aku berlari-lari kecil karena terlambat, sedikit malu bagiku untuk menampilkan wajah kehadapannya. 

Pernikahan dimulai, dia berjalan dengan amat tenang dan lihatlah wanita itu sepertinya amat sepantaran dengannya, tidak jauh umur seperti ku dengan dia. Mungkin mereka cocok. Aku masih batas biasa. Hingga sampai lah pada janji-janji sakral dalam pernikahan yang buat bulu kudukku merinding dan degup jantung yang amat tak karuan. Mereka berdiri saling menghadap dihadapan kami para tamu yang hadir serta dihadapan rumah ibadah tuhan kami. Mereka bersalaman serta mengucapkan janji yang bunyinya seperti ini 

"saya, jaya.... berjanji untuk menikahi Dina..... sebagai istri saya dalam suka maupun duka dalam sedih maupun susah... hingga maut memisahkan" 

Air mataku keluar. Kalimat macam apa itu yang mampu buat degup ku lebih keras berbunyi serta menjatuhkan air-air kesedihan di mata. Mengapa dia ucapkan? Dan mengapa aku sedih? Sangat sedih seperti hilang harapan, impianku untuk mencapai cahaya itu hilang seketika. Aku bagai daun yang kini sudah jatuh diterpa angin. Angin itu kini pergi mencari daun lain untuk menetap padanya. Daun yang lebih nyaman untuknya. Ah entahlah, percayalah ini bukan salahnya, ini salahku. Salahku untuk datang pada acara sakral pernikahan terhadap dia yang pernah ku harap dan ku suka. Aku membatin ini salahku. Salahku untuk buat hatiku sakit.

Dan kini ganti lah sang wanita yang mengangsur janji 
"Saya Dina.... berjanji untuk menikahi Jaya sebagai suami saya dalam suka maupun duka dalam sedih maupun susah... hingga maut memisahkan" 

Air mataku semakin sulit dibendung, sepanjang masa mengucap janji satu sama lain aku hanya bisa menahan isak tangis. Perjanjian pernikahan yang mereka ucapkan dengan banyak mata sebagai saksi, dan rumah ibadah sebagai saksinya didepan pemimpin ibadah, itu sudah cukup bagiku untuk tahu bahwa pasangan itu tak akan bisa berpisah. Bilamana mereka berpisah, perpisahan itu pun tak akan direstui oleh pihak berwenang. Wanita atau pria lain yang berusaha untuk mendapatkan salah satu dari mereka pun tak punya guna kekuatan apapun, mereka tidak akan bisa menikah dengan yang lainnya karena dalam janji pernikahan yang telah mereka ucapkan adalah menikah sebagai janji untuk hidup bersama sebagai pasangan suami istri sampai seumur hidup hingga ajal datang menjemput salah satu dari mereka. 

Yang ku sedihkan, bahwa hubunganku dengan dia sudah selesai. Kami tak akan bisa dekat, bahkan walau hanya sekedar berganti mengirim pesan, karena hal itu bisa menjadi bumerang hati kita. Aku sedih, cahayaku jauh dari anganku. Pertemuan singkat kita serta getaran rasa kita mungkin hanya itu sedikit dari cerita cinta kita. 

Ternyata harapku terwujud untuk bisa dekat denganmu walau hanya sebentar. Bukan hanya aku, ku juga tahu bahwa dia tentu pernah mengharap untuk menjadikan kita kekasih hingga menikah seumur hidup. Tapi realita bahwa wanita itu bukan aku, posisi nya adalah wanita lain yang sama sekali aku tak kenal siapa orang itu. Ku kira dia adalah cahaya surga yang juga sedang menunggku perjuanganku serta ikut berjuang untuk mendapatkanku, tapi ternyata aku hanyalah sebuah daun yang sempat dia sentuh tapi terjatuh karenanya dan dia justru pergi seperti angin untuk melalang mencari daun lain dan merekatkannya tanpa putus. 

Air mataku tumpah hanya untuk kejadian itu saja. Seusai acara kami bersalaman dengan mempelai, tapi tahukah? Dia mengacuhkan tatapanku, sementara istrinya amat sumringah bahagia menatapku, padahal kami belum kenal satu sama lain. Aku turun menuju parkiran dengan perasaan tahu diri. Cukup, janji pernikahan itu cukup amat menyakitkan. Pandangan yang kau acuhkan juga cukup buatku remuk. Mungkin itu semua adalah sebuah palu, palu keras untuk buatku tahu diri bahwa aku tak pantas masih mengharap suami orang untuk punya hubungan denganku.

Aku bagai daun jatuh kalau terus merasa begini. Pernikahan itu, janji sakral itu, acuhan pandangan itu, sudah cukup buatku sakit hati. Seperti daun yang berangsur angsur jatuh ke tanah, ditinggal pergi oleh ranting yang sudah tua dan angin yang terbang menjatuhkannya, kini hanya bisa diam diatas dataran pasir sembari menerima keadaan itu. 

Seperti novel yang pernah terbit, daun yang terjatuh tak pernah membenci angin. Aku mencoba menjadi daun yang dijatuhkan, yang jauh dari ratapan cahaya dilangit, yang jauh untuk tak bisa menggapai semua mimpi tentangnya, cahaya kejauhan sana, tapi tetap berusaha untuk tak pernah membencinya sedikitpun.  

Pernikahan itu cukup buat mataku berlinang. Sial aku masuk jebakan dunia batman. Jebakan yang buat hatiku renyah dan kalut air mata tumpah segelintir. Ah aku tak suka hari itu. Percayalah...


6 komentar:

  1. Daun Jatuh blablabla itu novel Tere Liye, ya?

    Menurut saya alurnya kecepetan, Na. Kayaknya di awal baru ketemu sebentar dan merasa dia itu orang baik ketika pergi bersama keluarganya dan sempet mau dijodohkan. Eh, tau-tau malah nikah sama orang lain. Kalau saya yang jadi tokoh itu, saya entah kenapa merasa biasa aja. Nggak perlu sedih.

    Tapi nggak tau juga sih, mungkin saya nggak merasa relate. Atau, saya sulit memahami perasaan perempuan di cerita ini. :( Ternyata, singkat pun bisa sangat berkesan, ya. Ehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Punya tere liye. Ih ini kan memang realitanya seperti itu hahaha. Ya biasa aja karena chemistry nya hanya sedikit cuman untuk orang yang pernah berharap penuh, sekecil apa itu chemistry, tetap saja jadi impian besar. Iya itu yoga, singkat tapi berkesan huahaha.

      Hapus
  2. Gue ngakak pas baca dunia jebakan batman. Tau lah hahaha udah terhanyut malah ketawa di bagian itu. Hahaha

    Keren sih, gue suka. Salut. Sori nggak bisa komen banyak, bingung soalnya terlalu kagum. :)

    BalasHapus
  3. entah kenapa saya lebih menyukai kombinasi warna, ukuran, dan jenis font pada bagian komentar daripada di badan post ya?
    hehe.. maaf, sedikiiiiiiit aja perbaikan (barangkali)..

    sayang lho mbak, fontnya yang di jdul blog dan kotak komentar sangat kekinian, tapi pas di badan tulisannya agak "jadul" hehe


    kakve-santi(dot)blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya? Terimakasih masukannya yaa. Kalau soal badan tulisan agak jadul karena memang genre saya suka yang jadul-jadul / vintage huehehe kalau mengenai judul blog dan kotak komentar 'enggak terkesan jadul', hal tersebut karena saya gak tau untuk ubah menjadi jadul harus digimanakan. Jadinya berbeda gitu deh hahaha. Terimakasih masukannya barangkali maseee! :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Fransisca Williana Nana
Lihat profil lengkapku

Followers

Google+ Followers

total human

Follow Us

BTemplates.com

About Us

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts