Welcome blog Mba Nana gengs!

Diario Area | Diario Travel | Diario Outfit | Diario Love | Diario Diario

Jumat, 13 Juli 2018

Mba Nana Casual Outfit (White Yuna Fringe Pants)


Kalau siang hari selalu panas rasanya dan malam hari selalu jadi bukti dinginnya nuansa, beda halnya dengan atasan putih, selalu menyelimuti tubuh walau terik menyengat. Adem rasanya, ya walaupun agak sedikit gerah sih. Jadi begini, deretan kursi diatas dan sandaran tote bag nuansa pink termasuk dalam bagian dari properti casual outfit kali ini. Beginilah mode nya... Yuk!
Rambut yang digerai tanpa tumpahan pernik apapun memang terkesan agak boyish bukan? Kadang kala memang gue lebih terfavorit untuk menjadi agak 'lelaki'. Terpenting bukan 'perkasa' ya kan? Ah beda konteks itu. Tapi kadang pun dalam mode kali ini untuk gaya rambut gue buat dijepit setengah di belakang dengan agak banyak tergerai tapi dilempar kebelakang walaupun masih sisa sedikit bagian untuk pangkal depannya. 


Kemeja putih tanpa kerah dengan lima biji kancing menjadi sasaran hangat untuk gue padukan dengan celana yang super nyentrik. Putih memang normal untuk masuk ke semua jenis kalangan warna. Seolah putih selalu diterima keberadaannya oleh semua jenisnya, walaupun paling terang dan dikenal paling suci, tetap saja keberadaannya selalu terlihat indah. Iya bukan sih? Ah kadang pun putih selalu jadi incaran.


Inilah yang disebut white yuna fringe pants. Disebut white mungkin karena biru nya masih sama dengan biru langit yang super terang seperti keputihan. Putih langit. Yuna Fringe mungkin itulah sebutannya untuk jenis celana dengan gaya "gombrang" yang terkesan boyish atau celana jenis vintage ini. 

Dengan umbul-umbul bagian bawah yang ramai padat buat gue benar tertarik untuk selalu kenakan yuna fringe kemanapun dengan atasan yang enggak heboh. Bagian sepatu lagi-lagi gue pakai sepatu jenis bahan dengan warna yang selalu jadi favorit. Pink dan cokelat adalah perpaduan paling exclusive untuk jenis mode vintage. Ah gue cinta jenis vintage!


Inilah pink totebag nya! Nuansa full pink dan hanya bagian resleting yang berwarna hitam. Gaya yang supercasual dalam totebag seolah menyatukan perpaduan outfit gue dengan atasan dan bawahan warna casual hanya saja mode gombrang dalam celananya yang buat casual outfit gue menjadi nyentrik seolah bernada. 

Tanpa perhiasan dan tetekbengek apapun gue kenakan. Properti tangan tidak lain hanya jam yang menempel, dan pegangan hanya pink totebag. Casual outfit mode ini yakni perpaduan antara mode kini yang terletak di atasan dan totebag nya, dengan celana dan sepatu yang super mode vintage. Untuk pergi cafe, mall, atau sekedar jalan santai sangat cocok banget. Enggak terlalu heboh atau kebanyakan pegangan dan pernak-perniknya, tapi tetap look stylish. 



On my video: 





Selasa, 19 Juni 2018

Waw! Ada taman baca asyik di Ciputat!


Mba nana mau kenalin ada taman baca asyik dan dijamin bikin pewe kalau agan-agan dan sista sekalian udah melancong kesitu! Yuk mari cekidot

Hasil gambar untuk taman baca kolong ciputat
https://www.google.com/search?q=taman+baca+kolong+ciputat&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiftueL7cjaAhXJpo8KHd5hDckQ_AUICigB&biw=1366&bih=637#imgrc=dz3RgCEwm84dQM:

Taman Baca yang terletak di kawasan ciputat dan tempatnya persis di bawah kolong jembatan ciputat tepat disamping mall plaza ciputat, benar-benar menjadi tempat yang super asyik buat dibawa santai kalau melancong kesana! Jamin deh.

Tempat taman baca berlokasi tepat di tengah-tengah arus kendaraan yang berbeda jalur. Kalau gue lihat-lihat dari luar, keliatannya sih gak asyik, tempatnya enggak bikin pewe, seakan gak akan dibuat nyaman kalau masuk kedalam. Karena yang ada di pikiran gue berfikiran kalau ada orang yang sedang nyantai di taman entah sedang tiduran, makan, tengkurep, atau hanya menyandar, tapi di kelilingi oleh lajur kendaraan yang padat (macet), seakan di tonton oleh kendaraan yang berlalu lalang. Agak risih bukan?

Tapi, sewaktu gue melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam dan "BOOM!" Berbeda drastis dari apa yang gue pikirkan waktu melihat taman baca dari arus jalanan. Dari situ gue jadi tahu, beberapa sisi hidup yang dipikirkan dan dirasakan itu enggak harus selalu sama, ada kalanya berbeda #uhhh matteee. Gue melihat dari sisi luar kalau tempatnya gak bikin pewe, tapi sewaktu gue masuk kedalamnya gue merasa benar-benar seperti dirumah nenek guys. Pewe tenan iki! :D

Tentang video channel youtube Williana Nana menyiarkan kalau gue sedang jadi mc di video taman baca kolong jembatan fly over ciputat. Enggak cuma arena taman untuk membaca aja, tapi ternyata juga tersedia tempat buat arena futsal yang udah disediain lapangannya, gawang buat nge-goal in bola, dan juga ada tempat untuk arena senam yang biasanya setiap sabtu pagi selalu dipakai sama komunitas senam disana. Di arena bacanya, terdapat perosotan kecil yang biasanya setiap sore gak pernah kesepian karena bangku perosot selalu diperosotin sama anak-anak balita yang main kesana sembari ditemani orang tuanya. Seru bukan? Yaa seru dong. 

Bila naik kendaraan, dapat diparkir di samping taman baca karena terdapat mall plaza ciputat dan pasar ciputat. Banyak lahan parkir disana, jadi kalau ke taman baca hanya tinggal menyebrang saja seperti yang gue lakuin. Luas penyebrangan enggak begitu besar. Cuma lima langkah saja paling. Tenang, menyebrang lima langkah tidak akan membuat keringat agan sista mengucur deras kok, paling hanya sedikit basah. Bukan masalah bukan?

Banyak posisi santai yang bisa kita lakuin di taman baca karena enggak terdapat aturan khususnya, entah gaya kayang atau atraksi tidur sambil melayang pun juga diperbolehkan. Sewaktu gue kesana, gue nemuin orang sepantaran kisaran 21 tahunan, doi cuma sedang duduk-duduk aja di taman rumput buatan sembari dengerin headphone yang terpasang serta pandangan natap lurus ke layar laptop entah sedang berfikir apa, gue mencoba mencari tahu jalan pikirannya tapi enggak sampai. Bahkan pingin rasanya bilang ke dia begini "tatap mata nana ojan!" supaya gue bisa hipnotis dia, tapi niat itu gue urungkan karena gue ngeri dibilang penjahat supranatural.

Supaya lebih tahu tentang taman baca ciputat yang asyik pake banget, yuk langsung klik video play yaaa. Walaupun nontonnya video mba nana yang enggak seberapa bagusnya tapi cukuplah buat mengerti tentang Taman Baca di kolong flyover Ciputat. Cekidot. 


Gimana? Bagus kan? Kalau bosen nyantai di coffee shop, bisa banget kesini buat nyantai sembari leha-leha menenangkan pikiran kusyut akan hidup. Tapi, ditaman baca gak ada penjajak kopi kayak di coffee shop gitu, jadi kalau mau santai sembari seduh kopi, bikin aja kopinya dirumah, nyeduhnya di taman baca ciputat ya bukan? Huehehe

Jadi, kapan agan sista akan nyantai-nyantai di taman baca?

Minggu, 03 Juni 2018

Seperti daun yang jatuh

Menatap cahaya jauh itu sulit sekali, mataku buram melihatnya, jauh jaraknya buatku tak bisa menatap lebih lama. Tetapi, kalau menetap pada cahaya adalah surga hati, aku akan berusaha semampuku, tanpa kenal lelah bahkan sampai darah penghabisan seperti para pejuang perang di masa lampau.

Ceritaku akan dimulai di sini, tepat dari sini. Orang yang lebih jangkung dariku serta lebih tua dariku dalam batas umur amat menarik dimata. Untuk melihat yang lain saja rasanya aku sungkan, pandanganku padanya sudah cukup buatku ambil kesimpulan pasti, bahwa suatu saat... mungkin kita akan dekat. Aku sedang berusaha seperti para pejuang sana.

Dia ternyata ku temui kehadirannya di salah satu pusat perbelanjaan bersama dengan keluarga. Aku tahu dia orang baik karena sedang berpergi dengan keluarga, ah tapi tidak juga. Lebih tepatnya, dia tahu menempatkan menjadi manusia baik di usia yang sudah dewasa. Aku juga dengan keluargaku. Karena sebelumnya sudah berkenalan dan dia meminta nomorku, lantas kami dekat seribu maut, aku tahu caranya merekatkan hubungan dengannya. Dia turun dari eskalator atas sementara aku masih diatas, ku teriaki namanya dan melambai padanya. Sontak keluarga kami masing-masing pun saling senyum dan melingkar tawa gurih pada sudut bibir masing-masing, tanpa di duga kami bisa bertemu di tempat lain, tapi tidak untuk bertemu dan mengobrol bersama. Itu hari pertama aku tersenyum padanya dengan ceria. 

***

Ibuku menceritakan padaku bahwa telah bertemu dengan rekan-rekan lainnya termasuk ada Ibunya dia di dalam kelompok itu, Ibu cerita kalau salah satu dari ibu-ibu lain menyodorkan ide untuk mengikatkan hubungan ku dengan anak itu, dia yang kuceritakan sedikit kisah kita di paragraf atas. Aku senang, lebih senang lagi kalau aku masih sendiri. Hanya seuntas senang yang terjadi dan hal itu tak akan terwujud. Disana ibuku juga cerita dimana tempat kerjaku yang baru, dan tahukah kalian bahwa suatu hari dia mendatangi tempat kerjaku yang baru itu. Melihatku mengambil segelas air, menyodorkan nampan, membantu teman yang sibuk ekspedator pelanggan yang datang dan dia sedang duduk menunggu pesanan yang sedang ku buat. Mulanya aku tak sadar, tapi ternyata, sungguh, itu dia, dia datang dengan pesanan yang di bungkus sembari menatapku lekat-lekat. Aku memalingkan muka menghadap kebelakang untuk kembali sibuk, aku mengacuhkan dia, aku malu ya ampun. Tapi untuk apa kerja halal tapi malu dilihat? Aku kembali tidak memusingkan hal itu. 

Malamnya sebelum tidur aku membaca pesan masuk di handphone, chat darinya! Dia bertanya sepintas tentang kerjaku, dia memberitahu bahwa dia melihatku. Ah aku sudah tahu itu. Hanya obrolan singkat. Ku tahu sepertinya manusia seperti dia bukan tipe mudah untuk menggait wanita pujaan. Buktinya bisa dilihat dari yang dia lakukan padaku. Hari ke hari berlalu tanpa gebrakan apapun lagi tentang kami, hingga akhirnya sebuah undangan tiba dirumahku. Dengan nama yang terpampang "Jaya dan Dina", ku buka setiap lembarannya, Ibu datangi ku "itu si jaya yang kata ibu-ibu tadinya mau dijodohin sama kamu, dia mau nikah". Aku tersenyum legit. Woaw ending cerita ini cepat sekali bung! 

"Kamu datang enggak? Datang ya temani Ibu"
Aku mengangguk. Aku bingung, apakah baik jalannya bila aku datang ke pernikahan itu. Tapi karena aku sudah terlanjur mengangguk, maka hadirlah aku dan Ibu. Acara telah dimulai tiga menit yang lalu tapi sang pengantin masih berbaris didepan ruangan sembari menunggu mentor selesai pembukaan yang sedang mengumumkan sesuatu. Pernikahan ini bukan di kua seperti pada umumnya, pernikahan ini di gereja tepatnya. Aku datang dengan terlambat, lantas berlari kecil untuk mencari bangku untuk di tempati, aku tahu dari arah kejauhan sana dia melihat aku berlari-lari kecil karena terlambat, sedikit malu bagiku untuk menampilkan wajah kehadapannya. 

Pernikahan dimulai, dia berjalan dengan amat tenang dan lihatlah wanita itu sepertinya amat sepantaran dengannya, tidak jauh umur seperti ku dengan dia. Mungkin mereka cocok. Aku masih batas biasa. Hingga sampai lah pada janji-janji sakral dalam pernikahan yang buat bulu kudukku merinding dan degup jantung yang amat tak karuan. Mereka berdiri saling menghadap dihadapan kami para tamu yang hadir serta dihadapan rumah ibadah tuhan kami. Mereka bersalaman serta mengucapkan janji yang bunyinya seperti ini 

"saya, jaya.... berjanji untuk menikahi Dina..... sebagai istri saya dalam suka maupun duka dalam sedih maupun susah... hingga maut memisahkan" 

Air mataku keluar. Kalimat macam apa itu yang mampu buat degup ku lebih keras berbunyi serta menjatuhkan air-air kesedihan di mata. Mengapa dia ucapkan? Dan mengapa aku sedih? Sangat sedih seperti hilang harapan, impianku untuk mencapai cahaya itu hilang seketika. Aku bagai daun yang kini sudah jatuh diterpa angin. Angin itu kini pergi mencari daun lain untuk menetap padanya. Daun yang lebih nyaman untuknya. Ah entahlah, percayalah ini bukan salahnya, ini salahku. Salahku untuk datang pada acara sakral pernikahan terhadap dia yang pernah ku harap dan ku suka. Aku membatin ini salahku. Salahku untuk buat hatiku sakit.

Dan kini ganti lah sang wanita yang mengangsur janji 
"Saya Dina.... berjanji untuk menikahi Jaya sebagai suami saya dalam suka maupun duka dalam sedih maupun susah... hingga maut memisahkan" 

Air mataku semakin sulit dibendung, sepanjang masa mengucap janji satu sama lain aku hanya bisa menahan isak tangis. Perjanjian pernikahan yang mereka ucapkan dengan banyak mata sebagai saksi, dan rumah ibadah sebagai saksinya didepan pemimpin ibadah, itu sudah cukup bagiku untuk tahu bahwa pasangan itu tak akan bisa berpisah. Bilamana mereka berpisah, perpisahan itu pun tak akan direstui oleh pihak berwenang. Wanita atau pria lain yang berusaha untuk mendapatkan salah satu dari mereka pun tak punya guna kekuatan apapun, mereka tidak akan bisa menikah dengan yang lainnya karena dalam janji pernikahan yang telah mereka ucapkan adalah menikah sebagai janji untuk hidup bersama sebagai pasangan suami istri sampai seumur hidup hingga ajal datang menjemput salah satu dari mereka. 

Yang ku sedihkan, bahwa hubunganku dengan dia sudah selesai. Kami tak akan bisa dekat, bahkan walau hanya sekedar berganti mengirim pesan, karena hal itu bisa menjadi bumerang hati kita. Aku sedih, cahayaku jauh dari anganku. Pertemuan singkat kita serta getaran rasa kita mungkin hanya itu sedikit dari cerita cinta kita. 

Ternyata harapku terwujud untuk bisa dekat denganmu walau hanya sebentar. Bukan hanya aku, ku juga tahu bahwa dia tentu pernah mengharap untuk menjadikan kita kekasih hingga menikah seumur hidup. Tapi realita bahwa wanita itu bukan aku, posisi nya adalah wanita lain yang sama sekali aku tak kenal siapa orang itu. Ku kira dia adalah cahaya surga yang juga sedang menunggku perjuanganku serta ikut berjuang untuk mendapatkanku, tapi ternyata aku hanyalah sebuah daun yang sempat dia sentuh tapi terjatuh karenanya dan dia justru pergi seperti angin untuk melalang mencari daun lain dan merekatkannya tanpa putus. 

Air mataku tumpah hanya untuk kejadian itu saja. Seusai acara kami bersalaman dengan mempelai, tapi tahukah? Dia mengacuhkan tatapanku, sementara istrinya amat sumringah bahagia menatapku, padahal kami belum kenal satu sama lain. Aku turun menuju parkiran dengan perasaan tahu diri. Cukup, janji pernikahan itu cukup amat menyakitkan. Pandangan yang kau acuhkan juga cukup buatku remuk. Mungkin itu semua adalah sebuah palu, palu keras untuk buatku tahu diri bahwa aku tak pantas masih mengharap suami orang untuk punya hubungan denganku.

Aku bagai daun jatuh kalau terus merasa begini. Pernikahan itu, janji sakral itu, acuhan pandangan itu, sudah cukup buatku sakit hati. Seperti daun yang berangsur angsur jatuh ke tanah, ditinggal pergi oleh ranting yang sudah tua dan angin yang terbang menjatuhkannya, kini hanya bisa diam diatas dataran pasir sembari menerima keadaan itu. 

Seperti novel yang pernah terbit, daun yang terjatuh tak pernah membenci angin. Aku mencoba menjadi daun yang dijatuhkan, yang jauh dari ratapan cahaya dilangit, yang jauh untuk tak bisa menggapai semua mimpi tentangnya, cahaya kejauhan sana, tapi tetap berusaha untuk tak pernah membencinya sedikitpun.  

Pernikahan itu cukup buat mataku berlinang. Sial aku masuk jebakan dunia batman. Jebakan yang buat hatiku renyah dan kalut air mata tumpah segelintir. Ah aku tak suka hari itu. Percayalah...


Selasa, 22 Mei 2018

Alun alun bandung, ending dari cerita di bandung


Destinasi terakhir untuk wisata terakhir di Bandung adalah alun-alun yang letaknya di pusat kota kehidupan Bandung. Lampu-lampu malam yang gemerlap asal sinar lampion jalanan, lampu-lampu kendaraan mobil motor, dan lampu sorot dari layar tv jalanan menjadi bukti bahwa Bandung masih bernafas hingga kini. 

Pusat kota Bandung adalah bukti bahwa kaki telah berpijak bertamu kemari. Berfoto merupakan yang utama, kebahagiaan ini amat bahagia. Taman dekat masjid besar dengan rumput hijau tua serta hijau muda yang di duduki hampir ratusan orang jadi pusat area bermain yang menyenangkan. Bukan hanya bermain bagi anak-anak dini, sepasang kekasih yang ingin berbincang tapi tak punya lahan juga bisa menepi disana, seperti aku contohnya hahaha. Duh sayang, aku tak memotretnya. Tapi masih ada di file video, seperti ini rupa tamannya dengan tulisan Bandung yang amat besar membentangi luas taman. Cakep bukan.



Ngomong-ngomong, tahukah kalian mengenai tembok bertuliskan 'bumi pasundan'. Itu sudah viral bukan main, tembok dengan tulisan kata indah menjadi pajangan menarik untuk dipakai sebagai pajangan potret seni bergambar dalam kamera, yang nantinya akan di bagikan ke seluruh penjuru media sosial sana. Tak kalah ingin menjadi hits, aku berlari menuju kolong jembatan bumi pasundan tempat orang-orang membidik layar kamera untuk mendapat gambar. Seperti ini hasil yang di dapat


Dibutuhkan perjuangan 45 untuk bisa foto disana. Memang kadang diperlukan perjuangan supaya bisa dapat hasil indah sesuai selera. Bolak balik menyebrang jalan raya untuk ganti-gantian difoto di sudut background tembok bertuliskan bumi pasundan. Walaupun ribet, makan banyak waktu, tapi lelah tak terasa asal bahagia melekat di jiwa. Selalu senang rasanya. Hingga sampai jadilah fotonya. Ini dia aku dan Bumi Pasundan yang viral di media sosial sana. 


Foto bagus sudah didapat, kendaraan kesana kemari lalu lalang masih saja ramai dan belum hilang dari peradaban. Mengartikan kota Bandung masih bernafas. Lagi-lagi tak kunjung padam. Hiruk pikuk kota nya buat ku merindu jakarta, letak jantung ibu kota di kota metropolitan sana. Apa kabarnya disana? Tapi disini rasanya buat ku lebih bernafas bahagia. Jalan kesana kemari dipinggiran jalan, dengan surutnya polusi dan keadaan yang semakin larut justru semakin dingin. Bagai dingin dari kaki-kaki pegunungan. Sungguh tentram disini. Suka sekali. Tapi sayang, hanyalah tamu.

Kalau belum tahu ada di peradaban jalanan sebelah mana, perkenalkan jalanan ini. Nama jalanan ini adalah... 



Mencoba menyebrang jalan melalui jembatan penyebrangan. Senang rasanya bagai jalan-jalan wisata, ya memang itu sebutannya. Melalui atas bisa dilihat mobil motor lalu lalang dengan kecepatan maksimum tinggi. Lampu-lampu jalanan amat ramai menyala, jalanan kota Bandung di malam hari masih saja terang, kota ini masih hidup walau di kota-kota terpencil pedalaman sana sudah tidur penghuninya. Tapi tidak disini, jajanan pun masih ramai padat merayap menjajaki makanannya untuk segera dibeli dan disantap habis. Mereka masih mencari segelintir uang demi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.


Lihatlah itu, aku cinta sekali foto di jalanan ramai kota malam Bandung. Cantik sekali sungguh. Dengan senyum atau hanya memajang diri disana, tak perduli terlihat cantik atau hanya seuntas gambar, tetap cantik ku lihat karena kerlap kerlip jalanan kota malam Bandung. Jauh lebih indah, sama seperti senja yang selalu muncul di ufuk sana. Benar cantik seperti kota malam Bandung. Ah keduanya serupa. 

Pada tembok yang ada tulisan Asia Afrika, dibelakang tembok segitiga berbentuk dengan kepala bumi diatasnya, terdapat tulisan lain yang dikemas dalam bahasa inggris, bahasa umat modern. Bunyinya seperti ini "Let a new Asian and new Africa be born" oleh Sukarno




Senin, 07 Mei 2018

Mba Nana Casual Outfit (long ingredients)

Kembali ke Cas Out atau Casual Outfit selera mba nana uyeee!
Casual Outfit dengan tema long ingredients seperti tulisan diatas artinya bukan semata-mata dengan make "bahan-bahan makanan" yang panjang, melainkan bahan-bahan indomi kain yang panjang-panjang. Bahan kain yang panjang disini enggak sampai jadi sapu lantai kok, hanya panjang menutupi semua aurat malu yang terbuka supaya tidak terlihat oleh mata buaya lirikan dari yang sedang cuci mata, juga supaya tidak kena masuk angin karena akhir-akhir ini cuaca selalu tidak stabil hingga bisa menyebabkan angin masuk ke tubuh. Untuk itu, Casual Outfit kali ini berjenis kelebihan kain. Walaupun ada sedikit bahan yang kekurangan, anggap saja itu bagian dari fashion. Karena fashion itu kadang aneh, seperti mba nana, jadi harap maklum. Hueeee


Jenis Fashion ini gue kenakan saat gue jalan-jalan di perkotaan alur-alur Bandung, tempat outdoor jenis travelling luar ruangan enggak memungkinkan kalau gue harus mengenakan pakaian ramai sana-sini karena bikin menarik perhatian dan selain itu sangat ribet untuk dipakai jalan ditempat luar ruangan, yang pasti bisa bikin hawa jadi panas. So, pakaian simple tapi enggak se-simple datar juga perlu untuk diketahui buat jalan-jalan. Simple and Chic atau simple tapi tetap trendy lah yang gue kenakan kali ini menurut selera mba nana. Ok!

So, From Head to Toe atau From Toe to Head?
Toe to Head is mainstream so we started from Toe to Head


Dari bawah sebagai alas kaki gue menggunakan sepatu. Jenis sepatu ini biasa disebut oleh masyarakat sekalian yaitu sepatu kets. Selain bisa dipakai untuk jalan santai, gue juga bisa berlari dengan kencang disaat situasi kritis. Sepatu kets cocok banget untuk dipakai jenis travel di luar ruangan. Kalau pun jalan di luar sedang mendapat musibah yakni banyak berbatu atau becek, sepatu kets bisa dipakai untuk melompat dari batu satu ke  batu sebrang. Ah asik deh! 


Untuk celana kali ini gue enggak pilih ribet. Gue memilih celana yang bisa digerakin kemanapun luas jenjang kali gue melangkah. Kayang bisa, kaki lebar 180 derajat pun juga bisa. Dia adalah celana legging uye! Selain bahanya yang lentur ketat dan benar-benar mengikuti langkah kaki, kalau pun dipakai juga tidak terasa berat seperti memakai celana jins. Dan kebanyakan, orang-orang yang jogging suka sekali untuk mengenakan legging. Bahannya yang tidak berat bila dipakai menjadi salah satu pilihan gue dalam mengenakan fashion untuk dipakai jalan-jalan di wisata outdoor. 


Untuk atasan, karena gue ingin membuat simple tapi tetap trendy unik, gue memilih atasan crop white atau kaos yang croptee sebagai gaya supaya keliatan unik, dan memilih black outer yang long ingredients atau bahannya panjang hingga ukuran se-paha. Karena kala itu gue sedang jalan-jalannya di malam hari, kalau fashionnya gue buat dengan kondisi gelap, agak sulit bagi gue untuk kelihatan unik. Jadi gue pilih white croptee sebagai objek yang bikin mata tertarik serta ditambah balutan aksesoris yang makin kelihatan chic and trendy.


Melalui latar depan, karena atasan gue hanya putih polos, gue tambahkan riasan kalung colourfull asli bali sebagai aksesoris supaya ada bagian sudut yang menjadi sorotan mata dari fashion yang gue kenakan, yakni pada kalung yang gue ikat di leher. 


Mini ransel bag abu-abu yang selalu memeluk gue dari punggung pun enggak lupa gue bawa. Perjalanan travel wisata di luar ruangan pun juga perlu untuk membawa beberapa barang kebutuhan. Karena itu, gue pilih ransel karena bisa memuat banyak barang dan memudahkan gue untuk jalan-jalan disekitar wisata alun alun. 



Yang terakhir di bagian kepala, gue bentuk rambut menjadi cepolan yang enggak begitu kencang. Dengan jedai yang mengikat dirambut cukup bisa membuat rambut tidak tergerai ke punggung. Sehabis di jedai, sebagai tambahan aksesoris supaya kelihatan chic, gue tambahkan headband atau bandana sebagai riasan di rambut. Headband dengan motif bunga warna warni dengan balutan warna hitam pada latarnya dapat membantu penampilan gue terlihat kasual tapi tetap chic. Kasual tapi tetap ber-colourfull.
Ok so lets see!












Minggu, 22 April 2018

Aku kalut dalam kerunyaman


Menjadi yang terbaik... bukan hanya suatu kiasan yang di inginkan semua orang. Yang terbaik itu pencapaian, mimpi, penggapaian, target, patokan, tolak ukur, keindahan bila akhirnya dicapai 

Yang ku tahu semua orang juga ingin bisa bahagia, bukan hanya aku saja. Tapi jalan menuju bahagia kadang kala banyak rintangan, kusutnya perjalanan, bahkan badai yang sulit dilewat. Lantas kalau sudah sulit harus bagaimana? Menyerah kah

Ada pepatah berkata kalau hidup itu perjuangan, tak boleh mudah tuk menyerah. Baiklah aku setuju. Tetapi...

Kalau sudah berlipat lipat kali merunyam kegagalan akan suatu yang ingin dicapai, lantas apa masih harus tetap berjuang tanpa mengaku kalau sudah kalah? Artikan menyerah. Apa masih harus terus melaju sampai akhirnya berhasil didapat? Ada yang menjalur dalam satu dayungan kelak berhasil. Ada yang sudah di dayung beribu-ribu kali tapi masih juga belum dikatakan berhasil. Lantas, mengapakah begini?

Aku benci untuk selalu kalah. Satu kali sampai lima kali tak apa walaupun kan berakhir melelahkan sampai hanya menyisakan sedikit tenaga saja untuk berjuang di sisanya. Mendayung lagi pun untuk kesepuluh kalinya tapi masih juga tak berhasil. Aku sampai lelah untuk selalu mendapati banyak penolakan tanpa pernah melihat anggukan dan mendengar sebuah kata ya, saya setuju. Aku lelah ya gusti. Harus sampai kapan lagi? 

Mimpiku kini melaju jauh dari anganku dulu. Mimpiku yang selalu ku sebut dalam doa dan tak pernah kau ladeni pun ku kira kau sependapat juga, tapi ternyata takdir berkata lain hingga aku merasa engkau berada dimana kini? Perkara ku selalu ku serahkan pada gusti tapi dengan usaha maksimal ku. Tapi nyatanya seakan aku hilang akan gusti. Aku benci untuk terus memikirkan 

Sesuatu itu... yang buat ku bercerai air mata setiap harinya. Dari hari ke hari selalu berjuang tanpa menyerah, selalu saja setiap akan mengambil jalan resiko baru tapi selalu ku dapati sodoran penolakan terlebih dulu, padahal aku akan siap untuk kisah selanjutnya. 

Berbagai penolakan banyak kuterima sampai sesak rasanya. Mungkin kalian tak akan mengerti, tapi percayalah, penolakan ini amat sakit rasanya. Setiap orang yang kutemui, bagai berkata bahwa takdir menolakku untuk mencapai mimpiku setinggi angkasa. Takdir bagai berkata bahwa aku masih harus berjuang mengemis dari bawah tanah, lagi dan lagi, terus menerus. Seakan takdir belum rela bila aku sudah dapat menyentuh angkasa. 

Hari hari ku hanya menangis kalut dalam kerunyaman sebagai wujud pelarian hati. Tanpa tangis artinya ku bahagia, maka itu ku menangis agar takdir menjadi saksi mata bahwa aku sedang sedih karena impiku tidak di setuju oleh banyak pihak, karena mereka semua sibuk untuk asyik dalam menolakku sejatuh jatuhnya. 

Jumat, 23 Maret 2018

What is friends for?



Dulu jamannya baru pindahan rumah dan jadi warga baru tanpa kenal keliling sekitar, ibu nyuruh buat kenalan sama anak-anak yang lagi main sama temen-temennya disekeliling rumah. "sana kenalan biar ada temen!" begitu katanya. Tapi gue masih tetep enggak berani untuk deketin mereka. Sampai akhirnya ibu nganter gue, nyodorin gue ke mereka seolah gue bagai barang sogokan "ini kenalan sama temennya, ajak main yaaa" kata ibu begitu ke mereka, terus ibu pergi balik lagi kerumah. Gue ditinggal sendirian. Diem. Ngeliatin mereka aja. Karena bingung alhasil gue ngekor mereka kesana kemari, cuma sekedar mengikuti kemana arah mereka tanpa suara yang keluar dari mulut dan cuma diem aja. Lalu kenalan sampai akhirnya pun jadi main bareng dan sampai lama jadi kebiasaan buat main bareng terus terusan. 

Umur semakin menambah, kualitas anak baru gede gue semakin menjadi. Keinginan buat menghabiskan waktu lebih banyak bareng teman-teman semakin meningkat dengan tujuan supaya ada kerjaan dan supaya perasaan jadi senang. Enggak dipungkiri, main bareng temen-temen itu bisa bikin senang. Semakin naik lagi umur, gue Sma, disitulah gairah untuk bermain semakin meningkat. Gaya hidup nongkrong disering-seringkan karena kebawa sama peradaban kalangan anak masa kini yang ditenarkan melalu media sosial. Nongkrong cuma pergi ke suatu cafe, cafe biasa yang penting menjual makanan dengan kualitas harga murah. Makanan enak menjadi satu pegangan untuk nongkrong menghabiskan waktu malam sampai jelang tidur. Itu terjadi saat remaja. Sebahagia itu rasanya. Enggak nongkrong aja, kerumah teman juga pula. Banyak waktu dibuang hanya untuk teman-teman tercinta dengan tujuan menghabiskan waktu dan supaya gue merasa bahagia. 

Menjelang kepala dua, teman satu persatu menghilang. Bukan ditelan bumi. Ada yang menikah dan sibuk sama urusan rumah tangga, ada yang sibuk mencari uang, ada yang sibuk sama dunianya. Mau meminta sedikit waktu dari teman rasanya susah. Ada yang diajak bertemu tapi justru lebih memilih pertemuan dia dengan kekasihnya. Sakit. Ada yang diajak bertemu tapi menolak dengan sejuta alasan. Perih. Pingin bahagia tapi bingung karena gak ada obyek supaya bisa bahagia. Memang teman obat paling ampuh untuk jadi amnesia sesaat tanpa beban hidup. Jadinya, menghabiskan waktu dipakai dengan teman yang memang satu bidang kala itu. Teman yang masih proses adaptasi bukan dengan sahabat-sahabat yang dulunya selalu bersua bersama kala malam hari hingga jam tidur dimulai.

Hingga kini dunia semakin terlihat bahwa seisinya itu adalah suatu politik. Melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan sesuai apa yang diinginkannya. Teman mendekati, teman membina obrolan baik, teman merangkul, teman memeluk, teman berjabat, kini semuanya sudah ada artinya. Bukan semata wayang tujuan tulus. Mendekati supaya bisa membantu koneksi, mendekati supaya bisa bertemu karena dilanda galau dan butuh pertolongan obat amnesianya, mendekati karena ada yang ingin dicari tahu, mendekati karena bisa membantu dari apa yang dibutuhkan si pendekat. 

Rasa polos yang dirasa waktu kecil mendekati teman dengan tujuan 'supaya punya teman' kini sudah bukan itu lagi alasannya. Melainkan mencari teman untuk 'jaringan koneksi yang bisa membantu', ya dunia semakin berpolitik. Bila memang laksana tak bisa membantu, tak diperlukan kembali, dijauhkanlah, disudahkanlah karena memang tak bermutu untuk dijalin tali silaturahminya. Sudah kodrat seperti ini mungkin? Lalu kepada siapa dapat menyandarkan kebahagiaan hidup? Cukup dengan bersyukur tak berharap atas apapun terlebih harapan pada teman seperti harapan masa kecil dulu. Bersyukur hanya sedikit saja dosisnya tapi efek nya jangka panjang.

Cukup bersyukur tanpa meminta lebih atau mengandalkan teman menjadi sandaran. Selain daripada teman adalah obat paling ampuh untuk melupa beban hidup, puncaknya teman juga alkohol kecewa yang dirasa paling perih. Cukup. Tak perlu berharap lebih. Karena sakit rasanya.

So, what is friends for? 


Minggu, 11 Maret 2018

Casual Pose Photoshoot at Eternity Costudio


Hai semua! Pingin bilang kayak biasanya seperti "Hai gengs!" Tapi males semenjak ada orang yang suka ngikutin cara panggilan khas mba nana ini. Yang jelas bukan teman-teman blog karena teman-teman blog punya karakternya sendiri huehehe. Emang gak enak ya kalo di ikutin, tapi sejujurnya gue juga ngikutin host di tv dengan manggil 'gengs' sih huehehe jadi pointnya sesuatu yang mengikuti akan dibalas dengan diikuti juga sama orang lain. Ah hukum kurma eh karma! 

Sekitaran bulan lalu tepatnya bulan februari gue di calling buat bantuin temen yang memang 'job sambilan' dia sebagai tukang foto atau bahasa kece nya photographer uhhhh gak serem gak kece gak kere keren, biasa aja gengs! Dia calling gue buat minta bantuan pegang kabel berpose-pose ria. Jadi begini...

Eternity costudio adalah studio dengan kebanyakan tema jepang didalamnya, tapi karena sudah berdiri cukup lama, seiring berjalannya waktu eternity jadi enggak cuma jejepangan aja, bisa masuk banyak konsep foto didalamnya. Sampai ada anak-anak yang magang di studio eternity itu, dan teman gue adalah kang foto nya yang sesekali harus memberi ilmu ke si anak magang entu. Dia calling gue bukan buat jadi mba pegang kabel, tapi buat bergaya normal seperti umumnya orang waras aja, lalu dijepret. Dan si kang foto ini yang ngajarin penjepretan dari segala liku-likunya ke si anak magang. Ngasih pendidikan gitu deh.

Hari foto tiba, gue datang, ganti baju buat dijepret, lalu disuruh masuk keruangan touch up. Ah gue cinta ruangan dandan! Sepanjang ujung cermin ada lampu-lampu yang dipasang, gue yang biasanya selalu terlihat dekil kumel and the cute tapi kini jadi jelita bersih tanpa jerawat. Terus gue dandan sendiri dengan bahagianya. Bener-bener bahagia!

Gue kira fotonya berkonsep, ternyata biasa saja. Baju alakadarnya tanpa embel-embel dan berpose tanpa lika liku. Yang jelas kang foto dan gue sembari memberitahu ke anak-anak magang pelajaran atau tips yang baik untuk melakukan photoshoot dalam versi kita. Mungkin kalau dari kang foto mengajari cara mengatur-atur kamera supaya hasilnya bisa terbilang sempurna. Sedangkan gue mengajari hal-hal koreo gaya dalam berpose supaya kelihatan bagus saat di jepret. 



Gue juga memberitahu ke anak-anak magang tips supaya model kelihatan berkelas di dalam kamera adalah dengan berpose 'tanpa menutupi jenjang lehernya' berbeda lagi dengan yang berhijab, kalau no hijab, usahakan jenjang lehernya terlihat. Karena jenjang leher itu seperti lekuk dari keindahan bodyshape. Karena kalau tertutup, jelek aja gitu dilihatnya. Boleh dicoba dirumah agan-agan sekalian. 

Selanjutnya gue cuma ngejalanin pose natural aja tanpa embel-embel komentar yang benar berkonsep. Judul dari foto dibawah 'let it flow', semacam natural hidup, belajar menghargai penerimaan, ikhlas untuk segalanya. Ah lagi-lagi pikiran gue berangan-angan. 



Ngajarin anak-anak magang bagai 'gue yang jadi gurunya' yang selalu dilihatin mulu kemanapun gue berdiri, gue bicara sehelai pasti mata mereka selalu mengarah ke gue tanpa kedipan. Dan gue merasa, mereka menghargai gue ketika gue membeberkan tips. Walaupun mungkin yang mereka rasakan lagi nahan kantuk berat, lagi bete dengerin ocehan mulu, lagi nahan laper, lagi nahan boker kapan kelarnya, yah seperti yang pernah gue rasain waktu jadi siswa maupun mahasiswa deh.

Tapi, perasaan yang gue dapet ialah gue jadi merasa senang karena petuah embel-embel dari yang gue bicarakan juga mereka butuhkan. Ah bahagianya jadi guru sesaat! Nah sebelum udahan, karena gue orangnya suka ngajak foto bersama supaya kelihatan bahagia di foto, kita pun foto. Foto bersama bisa berguna untuk laporan karya tulis hasil magang dan bisa buat kenang-kenangan di album. Perkenalkan...
satu lagi. lupa akun



Sedikit gambaran cuplikan gue kemas dalam video dibawah. Cekindot ya! :)






Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Fransisca Williana Nana
Lihat profil lengkapku

Followers

Google+ Followers

total human

Follow Us

BTemplates.com

About Us

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts