Welcome blog Mba Nana

Diario Area | Diario Travel | Diario Outfit | Diario Love | Diario Diario

Jumat, 17 Agustus 2018

Baiklah, aku katakan kepadamu

Hati manusia itu seputih kain kafan, bahkan seburuk bara api. Kalau benar kan damai, baik hatinya melebihi nurani hati. Kalau buruk dan jahat hatinya, lebih jahat dari panasnya api dalam sumur kaldu. Tapi, siapa yang tahu hatimu seperti apa?



Berdebat dengan sesama bukanlah hal yang asing, itu sudah banyak terjadi. Tapi semakin saling membelenggu dalam perdebatan bukannya menjadikan runtuh suatu hal buruk, malah semakin hilangnya pusat damai jiwa. 

Aku memang perempuan dan kamu seorang pria, atau aku seorang pria dan kamu adalah perempuan. Kami hanya punya perbedaan fisik yang dibentuk, bukankah hati dan cara pikir kami dapat serupa sewaktu waktu? 

Perdebatan antara kami bukanlah hal yang asing. Mungkin aku salah, tapi jangan kau buat kesalahanku adalah contoh untuk ucapanmu yang kasar. Silahkan marah. Silahkan mengamuk sepuas hati kalau memang itu semua salahku. Silahkan aku tak keberatan. Silahkan jadi onar untuk buatku sadar. Aku siap menanggung semua. Itu karena aku mencintaimu

Tapi

Jangan kau buat mulut manismu itu menjadi getah bening racun. Kau tahu apa itu perasaan? Hati yang sudah kokoh ku buat untuk mencintamu tapi kau teteskan banyak racun didalamnya. Itu sama saja dengan membalas perkara. Tak sadarkah kau akan hal demikian? Bukankah ajaran semesta berkata untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan? Tapi kembali lagi, kejahatan apa yang ku perbuat pada kamu yang ku cinta? 

Bukankah sudah kukatakan untuk mengamuk sepuasmu, lampiaskan semuamu padaku. Marahlah sepuasmu. Buatlah aku sadar. Tapi tolong, jangan berikan racun didalamnya. Tidak untuk menyakiti perasaanku. Kau tahu? Mulutmu itu semakin hari jauh dari keindahan merpati, tapi semakin serupa dengan panasnya merapi yang meletus. Panas rasanya. 

Kadang aku bertanya pada semesta, apakah ini memang balasan yang sepadan untukku?  Apa ini gerangan yang pantas ku dapat? Aku masih berusaha untuk tahu diri. Menahu diri menjadi seorang manusia suci. Tapi semakin ku fikirkan semuanya, semakin ku relung dalam hati, semakin ku bawa dalam mimpi tidurku semalam, semakin rapuh aku rasanya. Semakin terbelenggu sakit rasanya diri. 



Bagai hidup yang dipagar oleh berbagai mawar berduri. Ini memang terlihat indah tapi percayalah, sakit rasanya. Aku dicipta hidup tuk berharap kan ada seorang merpati yang tulus padaku, mengerti aku sepenuh relung, tapi nyatanya merpati itu tak pernah mengertiku. Memang sulit bila berharap orang lain kan mengerti ku sepenuhnya. Ternyata benar, pengaharapan yang paling sulit terletak pada pengharapan pada manusia itu sendiri. Pengharapan pada sesama. 

Aku membuka mata. Diam seribu bahasa. Otakku kembali mengulang hari kemarin. Apa aku salah? Kalau betul aku salah, bisakah jadikanku untuk berfikir lebih baik tanpa perlu kau sakiti relung hati? Jatuhnya, kalau membalas seribu lipat kali nya untuk buatku semakin remuk. 

Aku sudah mengaku salah, mengemis mohon maaf padamu. Tak bisakah kau mendidik cara bekerja otakku tuk jadi sesuai yang kau mau? Oh semesta, apa ini salah satu dalam wujud pengorbanan cinta? Harus menerima bila ditundukkan tapi tidak berasal dari hati kesanggupannya. Aku lelah akan ini. Bisakah aku tidur di pangkuan mu sejenak seperti kejadian dua tahun lalu tepatnya sebelum aku menemui dia yang mereka sebut dia adalah jodohku. 

Senin, 13 Agustus 2018

Zona Avengers (Thor, Iron Man)



"Kurr kurr kurrr!" Aksi Thor menimpuki musuh dengan kerikil kala itu,
"Jeduessss!" Timpuk Iron man dengan tendangan maut nya yang tidak kalah canggih. Wih! Gue terpukau nonton mereka sedang melawan musuh yang tidak terlihat. Mereka berdua pun memenangi perlawanan tersebut dikarenakan musuhnya tidak terlihat sehingga sudah dipastikan musuhnya akan kalah dalam pertarungan. Sungguh! Ini cerita pembukaan yang sangat weirdos bukan? 

Bahkan dalam cerita Avengers sebenarnya mereka sama sekali tidak berperang dengan hujan kerikil dan tendangan maut seperti si Dul anak betawi. Avengers berperang dengan senjata yang mereka miliki. Thor dengan palu yang "katanya" super berat dan tak ada seorang pun yang kuat mengangkat nya,  sementara Iron Man entah dengan kekuatan apa.

Oke cukup untuk pembukaan tentang Thor dan Iron Man karena gue bukan berniat menceritakan kisah Avengers, tapi ingin memberi tahu kalau Avengers lagi terbang ke jakarta loh guysss! Tepatnya ada di Mall Kota Kasablanka. Sayangnya itu terjadi sekitar dua bulan yang lalu. Nama acaranya yaitu Meet and Greet sama Thor dan Iron Man aja. Dan gue hadir disana! Banyak orang-orang mengantri giliran untuk bisa peluk mesra salam senyum dengan Thor dan Iron Man nya secara langsung. 


Karena antriannya panjang dan gue sendiri masih pingin menjelajah zona Avengers, gue pun melihat-lihat museum dari hasil galian tim Avengers. Gue menemukan sesuatu yang aneh. Bentuk tangan robot-robotan yang nempel di tanah tapi entah tidak bisa di angkat. Tangan robotnya terdapat tombol warna-warni tapi sayang tombolnya enggak bisa dipencet. Gue kira tombol itu pencetan untuk nge-bom satu gedung mall, tapi ternyata bukan, cuma tangan-tanganan buatan plastik. Ah! Ketipu.


Selain itu gue menemukan robot besar warna merah merona seperti warna gincu yang gue basuh di bibir. Robot besar ini lebih dikenal dengan gundam, tapi kali ini gundam versi raksasa. Ketika gue melihat si gundam merah, keinginan gue simpel, sederhana seperti nasi pandang padang, cuma pingin foto berduaan sama dia. Tapi realitanya sulit, robot merah ini banyak banget fans nya. Semua yang menatap si robot besar bakal langsung menancap kamera untuk sesi jepret. 

Akhirnya cuma bisa foto bareng dia dengan posisi dari kejauhan. Badan gue enggak nempel sama robot, enggak dekat, dan jauh banget jaraknya. Tapi hasilnya Oke! Karena ternyata wajah si robot ini sedang menghadap ke kamera dimana gue berpose dengan keadaan robot yang berdiri dibelakang. Begini hasilnya


Jelajah museum nya sudah cukup, sekarang waktunya ikut barisan antre untuk jabat tangan sama Thor dan Iron Man. Jabat tangan sama artis seluruh dunia. Ah siapa yang enggak antusias? Enggak semua antusias sih memang. Walaupun bukan tokoh asli, tapi yang peranin Thor ini orang bule, so bisa sembari dibayang bayangi perannya. 11-12 dengan Thor aslinya.

Sewaktu gue lagi masuk antrean seraya menunggu munculnya Avengers, gue berdiri di baris antrean depan, sewaktu Thor dan Iron Man muncul, gue mengarahkan handphone, sontak langsung membidik doi, eh ternyata tatapan doi memang menengadah ke kamera. Gue membayang sesungguhnya ini pemandangan termantap yang pernah gue lihat dari kamera handphone yang gue bidik, beginilah hasilnya


Dan inilah Iron Man. Doi gak kelihatan wajahnya.


Dari awal doi dateng sampai doi mau masuk ke dalam stage gayanya selalu begitu. Enggak pernah berubah. Gaya handalan Iron Man. Gue berharap setelah tangan doi diangkat keatas, doi bisa langsung terbang menembus awan bahkan kalau perlu terbang menembus bumi buat ambil bulan dan dikasih ke gue. Sungguh romantis melebihi romansa romansi masa kini dehhh! 

Well setelah menunggu antrian kurang lebih satu jam, akhirnya tiba saatnya gue dapet bagian untuk bisa naik ke stage untuk meet and great bareng mereka. Ini dia foto kami bareng tim Avengers.


Dan terjadinya percakapan yang modelnya begini...

Thor, "Helloo! How are you? Whats your name?" Sembari Tos dengan kami berdua

Nana, "Hiii! I'm fine i'm fine. My name is Nana" Membalas Tos an dari Thor dan Iron Man

Partner gue. "Fine fine" Sembari tersenyum sumringah dan balas Tos

Iron Man cuma bisa Tos dua tangan dan langsung ambil posisi buat gaya

Mbak-mbak dibawah "Ayooo siap yaaa!! 1... 2..."
Gue bingung. Gue melirik kiri kanan harus bergaya apa, karena bingung harus pose apa, alhasil cuma bisa ngikutin gaya partner. Tangan menjurus bagai pose kameha-meha. Setelah selesai.....

Thor, "Okayyy! Nice to meet you. Good byeee!"

Nana, partner, "Oh yaa thankyouuu!"

Kita turun dengan harapan ada hasil foto yang benar bagus adanya. Dan ternyata ada, walaupun cuma satu. Yah tak apa. Hikmah dari ini semua adalah ternyata tidak mudah kalau ingin foto dengan artis kelas dunia. Butuh energi, butuh perjuangan... Perjuangan buat mikir harus foto dengan pose/gaya apa misalnya, ah itu sulit.

Check on the video


Rabu, 01 Agustus 2018

Nagih Sidang Skripsi

Pernah dengarkah teman-teman mengenai sidang skripsi? 
Sidang skripsi semata-mata seperti sidang umumnya yang terdapat seorang hakim, jaksa, saksi, dan kawan-kawannya. Si Penyidang banyak memberi pertanyaan ke orang yang disidang dengan tujuan utama tentu "ingin mengetahui" suatu hal. Bila dibayangi proses sidang yang dilakukan memang terdengar seram, penuh pertanyaan, penuh tekanan, penuh materi, dan butuh kesanggupan. Karena hal itulah yang membuat sidang skripsi seolah serupa seperti sidang umumnya.

Perbedaannya, sidang skripsi enggak ada seorang hakim, jaksa, saksi dan kawan-kawannya. Hanya terdapat 3 orang penguji atau bahkan bisa lebih. Tujuan penguji menyidang si orang yang melakukan skripsi ialah untuk mencari tahu apakah skripsi yang dibuatnya benar skripsi dari si orang itu atau bukan. Karena skripsi itu tugas akhir dari kampus, dan tugas terakhir untuk orang yang ingin mendapat ijasah kelulusan harus menyerahkan hasil dari yang dipelajarinya kepada universitas atau kampusnya. Kurang lebih begitu mungkin yaa?

Untuk pertama kalinya, gue merasa benar dibuat nagih untuk sidang skripsi. Kalian mau tahu kenapa?

Oke, gue mulai ceritanya. Huehehe



Tepat tanggal 29 Juni kemarin gue habis melakukan sidang skripsi pada siang hari. Sebelum hari sidang gue sempat ditakuti oleh banyak mahasiswa karena katanya kalau sidang di siang hari itu mood para penguji sedang berada di batas buruk karena pikiran halu mengantuk seusai makan siang, sementara sidang gue dilakukan setelah pukul satu siang. Ada pula yang bilang kalau biasanya di sidang setelah minggu-minggu lebaran akan banyak anak-anak yang tidak di luluskan, entah mengapa. Semua omong kosong itu benar berhasil buat gue jadi semakin merinding disco. Rasanya enggak mau sidang, pingin skip hari tanggal sidang. Serius!

H-1 dan di hari H, gue benar tegang seribu maut. Gue lebih banyak diam, belajar juga sebentar-sebentar karena berusaha untuk tidak memenuhi kapasitas memori di otak. Tidur secukupnya tapi justru malah tidur kepagian dan bangun lebih pagi karena dilanda stress pikiran. Semuanya amat kacau untuk hari sidang esok. 

Di dalam ruangan sidang sembari menunggu ketiga dosen yang amat lama sekali datangnya, gue hanya bisa duduk kaku sembari menghafal materi yang akan dibahas. Memahami sedetail-detailnya hingga akhirnya dosen pertama datang, beliau adalah mantan dosen pembimbing kkp dulu. Beliau memang suka mengakrabkan diri

"Panas banget ya diluar" ucap beliau basa-basi

Gue diam, melongo kaget, "Iya pak" Pikir gue ingin banyak bicara ke beliau, tapi gue harus tetap waspada sama dosen penguji karena kalau salah bicara, bisa-bisa jadi dampak buruk kemana-mana. Dan gue selalu menghindari hal itu. Demi!

Dosen kedua datang dan duduk di bangku yang sudah disediakan. Dosen yang datang terakhir adalah dosen pembimbing, beliau langsung membuka suara. Gue langsung berdiri mengambil posisi untuk siap melakukan presentasi. Slide demi slide gue baca dengan singkat padat jelas supaya tidak terulur waktu lama daripada diberhentikan sebelum selesai. Dan munculah pada sesi pertanyaan.

Gue enggak bisa menjawab pertanyaan pertama, tapi tetap gue jawab sesuai kemampuan walaupun dengan jawaban semenurut pikiran. Gue berusaha untuk tidak menjawab dengan "tidak tahu" karena gue menunjukkan kalau memang ini skripsian murni hasil jerih payah. Bukan plagiat. Karena motto itulah gue jadi semangat percaya diri untuk ikut serta maju sidang. 

Beliau bertanya lagi, "Skripsi kamu ini lanjutan dari seminar kan?" Dan terus menerus mengulang pertanyaan tersebut. Inilah masalahnya, proses skripsi gue amat menyedihkan karena tidak bisa melanjut dari seminar lalu. Peraturannya memang skripsi harus dilanjutkan dari seminar, sementara gue tidak. Gue diam. Ingin berbohong tapi takut, ingin jujur tapi takut berucap. 

Gue tengok sedikit mengarah dosen pembimbing, terlihat bahasa isyarat kalau beliau meminta gue untuk menjawab "iya" yang mengartikan kalau skripsi ini adalah lanjutan dari seminar yang lalu. "I..iya" gue jawab dengan terbata. 

Pertanyaan selanjutnya masih dengan penguji yang sama. Ini amat menjengkelkan karena gue takut lagi-lagi tidak bisa menjawab. Kali ini beliau berucap, bukan sebuah pertanyaan

"Ini nih kita sharing aja nih, menurut kamu, nana, hal-hal yang sudah dilakukan oleh komunitas ini sudah maksimal atau belum?" Begitu kilasannya. Gue berfikir sejenak, merenung, lalu menjawab 

"Belum pak"

"Kenapa?" Sudah gue duga beliau akan mengulik jawaban gue lebih dalam.

"Karena masih banyak yang bisa dilakukan, bukan cuma sebuah event atau edukasi dalam media saja, contohnya bisa lebih diperkecil yaitu memberikan informasi lebih mendalam ke kalangan yang lebih dipersempit. Contohlah pengadaan seminar ke anak sekolah dengan kategori sd, smp, tapi dengan informasi yang berbeda beda" Kurang lebih nya begitu. Beliau manggut-manggut. Gue merasa inilah kepuasan yang hakiki. 

Tidak hanya manggut, beliau bertanya lagi, gue lelah. Jatuhnya pembicaraan ini bukan semata-mata sidang, lebih ke pengenalan pembahasan skripsi lebih mendalam kepada dua orang penguji. Jatuhnya seperti memuaskan hasrat penasaran dari dua penguji tentang pembahasan skripsian. 

***

Hingga sidang berakhir, sampailah ke tahap final. DImana gue akan dinyatakan lulus atau tidak. Sidang gue berjalan cukup lama, sekitar satu setengah jam. Biasanya teman-teman hanya sekitar satu jam, sampai-sampai gue benar dibuat lapar gara-gara sidang. Perut gue keroncongan. Bapak penguji pertama pun membuka suara

"Nana... mengenai sidang kamu kali ini... Dari jawaban yang kamu berikan memang kurang memuaskan. Kami berikan kamu dua pilihan. Ingin lulus sekarang tapi dengan nilai yang amat terpaksa, atau mengulang di semester selanjutnya dan berusaha untuk memperbaiki skripsi kamu menjadi lebih bagus lagi" Begitu katanya

"Masa mengulang pak?" Tanya gue pasrah terbata-bata

"Iyaaa. Mau gimana lagi? Jawaban yang kamu berikan kurang memuaskan kok" Bantahnya.

"Yah paling kalau mau sekedar lulus nilainya D ya?" Sodor dosen pembimbing.

"Wah? D mana ada pak?" Lanjut penguji kedua buka suara. Mereka tertawa pelan.

Gue diam, gue berfikir kalau tidak ada nilai D dalam kelulusan lalu mengapa dosen gue sendiri membuat guyonan dengan memberi nilai D pada sidang gue? Ah ini semua amat tidak masuk akal. Gue merasa gue akan masuk ke jebakan batman. Oke fine. Karena sidang gue sudah berjalan amat lama, perut sudah amat keroncongan, teman-teman didepan ruangan sudah lama menunggu, anak yang akan sidang selanjutnya juga sudah menunggu kelasnya, gue terpaksa harus segera menangis untuk menyudahi ini semua. 

Penguji satu melanjut, "Jadi gimana nana? Mau dilanjut atau mengulang"

Karena kekuatan tegang yang amat parah, ditambah mental gue buat secupu mungkin, gue menggumam untuk segera menangis. Gue tahu menangis adalah salah satu cara jitu supaya sidang ini berakhir.

"Dilanjut pak" 

"Yakin kamu? Dengan nilai yang pas-pas an?" Gue tahu akan selalu banyak pertanyaan terus-menerus, kalau selalu gue jawab, akan lanjut pertanyaan selanjutnya, selalu begitu, tidak akan berakhir. Gue memilih untuk diam dan menunduk menangis. Gue sadari mereka bergumum untuk menyudahi jebakan batman ini. 

"Oke kalau begitu kamu dilanjut dengan nilai pas-pas an, bisa dilihat dengan dosen pembimbing" Lalu kedua penguji itu keluar, dan gue melihat hasilnya ternyata mendapat nilai "A"

Apakah ini? Ini benarrr jebakan batman. Gue bersyukur karena pada hari ini air mata bisa berkompromi untuk bekerja sama. Karena gue tahu bila kondisinya gue tidak menangis atau tidak menunjukkan kesedihan, jebakan batman ini akan berjalan semakin lama, bisa-bisa dua jam waktu sidang gue berjalan. Sungguh buruk bukan?

Gue benar dibuat nagih akan sidang daripada proses pengerjaan skripsi. Sidang bagai menjalin hubungan dengan para dosen-dosen. Ahh enggak seram seperti yang dibayangkan tuh hehehe


Dosen pembimbing juga menjadi satu alasan mengapa gue ingin ikut dalam sidang pertama, tadinya tidak ingin gue luluskan karena dilanda kacau balau proses pengerjaan. Tapi beliau menjadi salah satu alasan mengapa gue kekeuh untuk segera lulus. Huehehe


Ini dia kawan yang satu didikan dosen pembimbing, sewaktu sidang kelasnya berdampingan di jam dan hari yang sama. Ah bagai jodoh bukan? Heheee



Akhirnya lulus dan akhirnya buku skripsi sudah jadi. Pelajaran dari skripsi ini cukup rumit, perjuangan dengan niat memang akan membuahkan hasil yang besar daripada perjuangan dengan tanpa niat atau sedikit niat. Proses niat jauh lebih dibutuhkan memang. Untuk kisah sedih selama proses skripsi akan gue ceritakan di cerita selanjutnya, menyusul yaa? Gue benar melupakan cerita sedihnya, itu semua bagai mimpi buruk skripsi. And finally, mimpi buruk skripsi akhirnya selesai. Yeay! I'm ready to the next level!!!

Jumat, 13 Juli 2018

Mba Nana Casual Outfit (White Yuna Fringe Pants)


Kalau siang hari selalu panas rasanya dan malam hari selalu jadi bukti dinginnya nuansa, beda halnya dengan atasan putih, selalu menyelimuti tubuh walau terik menyengat. Adem rasanya, ya walaupun agak sedikit gerah sih. Jadi begini, deretan kursi diatas dan sandaran tote bag nuansa pink termasuk dalam bagian dari properti casual outfit kali ini. Beginilah mode nya... Yuk!
Rambut yang digerai tanpa tumpahan pernik apapun memang terkesan agak boyish bukan? Kadang kala memang gue lebih terfavorit untuk menjadi agak 'lelaki'. Terpenting bukan 'perkasa' ya kan? Ah beda konteks itu. Tapi kadang pun dalam mode kali ini untuk gaya rambut gue buat dijepit setengah di belakang dengan agak banyak tergerai tapi dilempar kebelakang walaupun masih sisa sedikit bagian untuk pangkal depannya. 


Kemeja putih tanpa kerah dengan lima biji kancing menjadi sasaran hangat untuk gue padukan dengan celana yang super nyentrik. Putih memang normal untuk masuk ke semua jenis kalangan warna. Seolah putih selalu diterima keberadaannya oleh semua jenisnya, walaupun paling terang dan dikenal paling suci, tetap saja keberadaannya selalu terlihat indah. Iya bukan sih? Ah kadang pun putih selalu jadi incaran.


Inilah yang disebut white yuna fringe pants. Disebut white mungkin karena biru nya masih sama dengan biru langit yang super terang seperti keputihan. Putih langit. Yuna Fringe mungkin itulah sebutannya untuk jenis celana dengan gaya "gombrang" yang terkesan boyish atau celana jenis vintage ini. 

Dengan umbul-umbul bagian bawah yang ramai padat buat gue benar tertarik untuk selalu kenakan yuna fringe kemanapun dengan atasan yang enggak heboh. Bagian sepatu lagi-lagi gue pakai sepatu jenis bahan dengan warna yang selalu jadi favorit. Pink dan cokelat adalah perpaduan paling exclusive untuk jenis mode vintage. Ah gue cinta jenis vintage!


Inilah pink totebag nya! Nuansa full pink dan hanya bagian resleting yang berwarna hitam. Gaya yang supercasual dalam totebag seolah menyatukan perpaduan outfit gue dengan atasan dan bawahan warna casual hanya saja mode gombrang dalam celananya yang buat casual outfit gue menjadi nyentrik seolah bernada. 

Tanpa perhiasan dan tetekbengek apapun gue kenakan. Properti tangan tidak lain hanya jam yang menempel, dan pegangan hanya pink totebag. Casual outfit mode ini yakni perpaduan antara mode kini yang terletak di atasan dan totebag nya, dengan celana dan sepatu yang super mode vintage. Untuk pergi cafe, mall, atau sekedar jalan santai sangat cocok banget. Enggak terlalu heboh atau kebanyakan pegangan dan pernak-perniknya, tapi tetap look stylish. 



On my video: 





Selasa, 19 Juni 2018

Waw! Ada taman baca asyik di Ciputat!


Mba nana mau kenalin ada taman baca asyik dan dijamin bikin pewe kalau agan-agan dan sista sekalian udah melancong kesitu! Yuk mari cekidot

Hasil gambar untuk taman baca kolong ciputat
https://www.google.com/search?q=taman+baca+kolong+ciputat&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiftueL7cjaAhXJpo8KHd5hDckQ_AUICigB&biw=1366&bih=637#imgrc=dz3RgCEwm84dQM:

Taman Baca yang terletak di kawasan ciputat dan tempatnya persis di bawah kolong jembatan ciputat tepat disamping mall plaza ciputat, benar-benar menjadi tempat yang super asyik buat dibawa santai kalau melancong kesana! Jamin deh.

Tempat taman baca berlokasi tepat di tengah-tengah arus kendaraan yang berbeda jalur. Kalau gue lihat-lihat dari luar, keliatannya sih gak asyik, tempatnya enggak bikin pewe, seakan gak akan dibuat nyaman kalau masuk kedalam. Karena yang ada di pikiran gue berfikiran kalau ada orang yang sedang nyantai di taman entah sedang tiduran, makan, tengkurep, atau hanya menyandar, tapi di kelilingi oleh lajur kendaraan yang padat (macet), seakan di tonton oleh kendaraan yang berlalu lalang. Agak risih bukan?

Tapi, sewaktu gue melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam dan "BOOM!" Berbeda drastis dari apa yang gue pikirkan waktu melihat taman baca dari arus jalanan. Dari situ gue jadi tahu, beberapa sisi hidup yang dipikirkan dan dirasakan itu enggak harus selalu sama, ada kalanya berbeda #uhhh matteee. Gue melihat dari sisi luar kalau tempatnya gak bikin pewe, tapi sewaktu gue masuk kedalamnya gue merasa benar-benar seperti dirumah nenek guys. Pewe tenan iki! :D

Tentang video channel youtube Williana Nana menyiarkan kalau gue sedang jadi mc di video taman baca kolong jembatan fly over ciputat. Enggak cuma arena taman untuk membaca aja, tapi ternyata juga tersedia tempat buat arena futsal yang udah disediain lapangannya, gawang buat nge-goal in bola, dan juga ada tempat untuk arena senam yang biasanya setiap sabtu pagi selalu dipakai sama komunitas senam disana. Di arena bacanya, terdapat perosotan kecil yang biasanya setiap sore gak pernah kesepian karena bangku perosot selalu diperosotin sama anak-anak balita yang main kesana sembari ditemani orang tuanya. Seru bukan? Yaa seru dong. 

Bila naik kendaraan, dapat diparkir di samping taman baca karena terdapat mall plaza ciputat dan pasar ciputat. Banyak lahan parkir disana, jadi kalau ke taman baca hanya tinggal menyebrang saja seperti yang gue lakuin. Luas penyebrangan enggak begitu besar. Cuma lima langkah saja paling. Tenang, menyebrang lima langkah tidak akan membuat keringat agan sista mengucur deras kok, paling hanya sedikit basah. Bukan masalah bukan?

Banyak posisi santai yang bisa kita lakuin di taman baca karena enggak terdapat aturan khususnya, entah gaya kayang atau atraksi tidur sambil melayang pun juga diperbolehkan. Sewaktu gue kesana, gue nemuin orang sepantaran kisaran 21 tahunan, doi cuma sedang duduk-duduk aja di taman rumput buatan sembari dengerin headphone yang terpasang serta pandangan natap lurus ke layar laptop entah sedang berfikir apa, gue mencoba mencari tahu jalan pikirannya tapi enggak sampai. Bahkan pingin rasanya bilang ke dia begini "tatap mata nana ojan!" supaya gue bisa hipnotis dia, tapi niat itu gue urungkan karena gue ngeri dibilang penjahat supranatural.

Supaya lebih tahu tentang taman baca ciputat yang asyik pake banget, yuk langsung klik video play yaaa. Walaupun nontonnya video mba nana yang enggak seberapa bagusnya tapi cukuplah buat mengerti tentang Taman Baca di kolong flyover Ciputat. Cekidot. 


Gimana? Bagus kan? Kalau bosen nyantai di coffee shop, bisa banget kesini buat nyantai sembari leha-leha menenangkan pikiran kusyut akan hidup. Tapi, ditaman baca gak ada penjajak kopi kayak di coffee shop gitu, jadi kalau mau santai sembari seduh kopi, bikin aja kopinya dirumah, nyeduhnya di taman baca ciputat ya bukan? Huehehe

Jadi, kapan agan sista akan nyantai-nyantai di taman baca?

Minggu, 03 Juni 2018

Seperti daun yang jatuh

Menatap cahaya jauh itu sulit sekali, mataku buram melihatnya, jauh jaraknya buatku tak bisa menatap lebih lama. Tetapi, kalau menetap pada cahaya adalah surga hati, aku akan berusaha semampuku, tanpa kenal lelah bahkan sampai darah penghabisan seperti para pejuang perang di masa lampau.

Ceritaku akan dimulai di sini, tepat dari sini. Orang yang lebih jangkung dariku serta lebih tua dariku dalam batas umur amat menarik dimata. Untuk melihat yang lain saja rasanya aku sungkan, pandanganku padanya sudah cukup buatku ambil kesimpulan pasti, bahwa suatu saat... mungkin kita akan dekat. Aku sedang berusaha seperti para pejuang sana.

Dia ternyata ku temui kehadirannya di salah satu pusat perbelanjaan bersama dengan keluarga. Aku tahu dia orang baik karena sedang berpergi dengan keluarga, ah tapi tidak juga. Lebih tepatnya, dia tahu menempatkan menjadi manusia baik di usia yang sudah dewasa. Aku juga dengan keluargaku. Karena sebelumnya sudah berkenalan dan dia meminta nomorku, lantas kami dekat seribu maut, aku tahu caranya merekatkan hubungan dengannya. Dia turun dari eskalator atas sementara aku masih diatas, ku teriaki namanya dan melambai padanya. Sontak keluarga kami masing-masing pun saling senyum dan melingkar tawa gurih pada sudut bibir masing-masing, tanpa di duga kami bisa bertemu di tempat lain, tapi tidak untuk bertemu dan mengobrol bersama. Itu hari pertama aku tersenyum padanya dengan ceria. 

***

Ibuku menceritakan padaku bahwa telah bertemu dengan rekan-rekan lainnya termasuk ada Ibunya dia di dalam kelompok itu, Ibu cerita kalau salah satu dari ibu-ibu lain menyodorkan ide untuk mengikatkan hubungan ku dengan anak itu, dia yang kuceritakan sedikit kisah kita di paragraf atas. Aku senang, lebih senang lagi kalau aku masih sendiri. Hanya seuntas senang yang terjadi dan hal itu tak akan terwujud. Disana ibuku juga cerita dimana tempat kerjaku yang baru, dan tahukah kalian bahwa suatu hari dia mendatangi tempat kerjaku yang baru itu. Melihatku mengambil segelas air, menyodorkan nampan, membantu teman yang sibuk ekspedator pelanggan yang datang dan dia sedang duduk menunggu pesanan yang sedang ku buat. Mulanya aku tak sadar, tapi ternyata, sungguh, itu dia, dia datang dengan pesanan yang di bungkus sembari menatapku lekat-lekat. Aku memalingkan muka menghadap kebelakang untuk kembali sibuk, aku mengacuhkan dia, aku malu ya ampun. Tapi untuk apa kerja halal tapi malu dilihat? Aku kembali tidak memusingkan hal itu. 

Malamnya sebelum tidur aku membaca pesan masuk di handphone, chat darinya! Dia bertanya sepintas tentang kerjaku, dia memberitahu bahwa dia melihatku. Ah aku sudah tahu itu. Hanya obrolan singkat. Ku tahu sepertinya manusia seperti dia bukan tipe mudah untuk menggait wanita pujaan. Buktinya bisa dilihat dari yang dia lakukan padaku. Hari ke hari berlalu tanpa gebrakan apapun lagi tentang kami, hingga akhirnya sebuah undangan tiba dirumahku. Dengan nama yang terpampang "Jaya dan Dina", ku buka setiap lembarannya, Ibu datangi ku "itu si jaya yang kata ibu-ibu tadinya mau dijodohin sama kamu, dia mau nikah". Aku tersenyum legit. Woaw ending cerita ini cepat sekali bung! 

"Kamu datang enggak? Datang ya temani Ibu"
Aku mengangguk. Aku bingung, apakah baik jalannya bila aku datang ke pernikahan itu. Tapi karena aku sudah terlanjur mengangguk, maka hadirlah aku dan Ibu. Acara telah dimulai tiga menit yang lalu tapi sang pengantin masih berbaris didepan ruangan sembari menunggu mentor selesai pembukaan yang sedang mengumumkan sesuatu. Pernikahan ini bukan di kua seperti pada umumnya, pernikahan ini di gereja tepatnya. Aku datang dengan terlambat, lantas berlari kecil untuk mencari bangku untuk di tempati, aku tahu dari arah kejauhan sana dia melihat aku berlari-lari kecil karena terlambat, sedikit malu bagiku untuk menampilkan wajah kehadapannya. 

Pernikahan dimulai, dia berjalan dengan amat tenang dan lihatlah wanita itu sepertinya amat sepantaran dengannya, tidak jauh umur seperti ku dengan dia. Mungkin mereka cocok. Aku masih batas biasa. Hingga sampai lah pada janji-janji sakral dalam pernikahan yang buat bulu kudukku merinding dan degup jantung yang amat tak karuan. Mereka berdiri saling menghadap dihadapan kami para tamu yang hadir serta dihadapan rumah ibadah tuhan kami. Mereka bersalaman serta mengucapkan janji yang bunyinya seperti ini 

"saya, jaya.... berjanji untuk menikahi Dina..... sebagai istri saya dalam suka maupun duka dalam sedih maupun susah... hingga maut memisahkan" 

Air mataku keluar. Kalimat macam apa itu yang mampu buat degup ku lebih keras berbunyi serta menjatuhkan air-air kesedihan di mata. Mengapa dia ucapkan? Dan mengapa aku sedih? Sangat sedih seperti hilang harapan, impianku untuk mencapai cahaya itu hilang seketika. Aku bagai daun yang kini sudah jatuh diterpa angin. Angin itu kini pergi mencari daun lain untuk menetap padanya. Daun yang lebih nyaman untuknya. Ah entahlah, percayalah ini bukan salahnya, ini salahku. Salahku untuk datang pada acara sakral pernikahan terhadap dia yang pernah ku harap dan ku suka. Aku membatin ini salahku. Salahku untuk buat hatiku sakit.

Dan kini ganti lah sang wanita yang mengangsur janji 
"Saya Dina.... berjanji untuk menikahi Jaya sebagai suami saya dalam suka maupun duka dalam sedih maupun susah... hingga maut memisahkan" 

Air mataku semakin sulit dibendung, sepanjang masa mengucap janji satu sama lain aku hanya bisa menahan isak tangis. Perjanjian pernikahan yang mereka ucapkan dengan banyak mata sebagai saksi, dan rumah ibadah sebagai saksinya didepan pemimpin ibadah, itu sudah cukup bagiku untuk tahu bahwa pasangan itu tak akan bisa berpisah. Bilamana mereka berpisah, perpisahan itu pun tak akan direstui oleh pihak berwenang. Wanita atau pria lain yang berusaha untuk mendapatkan salah satu dari mereka pun tak punya guna kekuatan apapun, mereka tidak akan bisa menikah dengan yang lainnya karena dalam janji pernikahan yang telah mereka ucapkan adalah menikah sebagai janji untuk hidup bersama sebagai pasangan suami istri sampai seumur hidup hingga ajal datang menjemput salah satu dari mereka. 

Yang ku sedihkan, bahwa hubunganku dengan dia sudah selesai. Kami tak akan bisa dekat, bahkan walau hanya sekedar berganti mengirim pesan, karena hal itu bisa menjadi bumerang hati kita. Aku sedih, cahayaku jauh dari anganku. Pertemuan singkat kita serta getaran rasa kita mungkin hanya itu sedikit dari cerita cinta kita. 

Ternyata harapku terwujud untuk bisa dekat denganmu walau hanya sebentar. Bukan hanya aku, ku juga tahu bahwa dia tentu pernah mengharap untuk menjadikan kita kekasih hingga menikah seumur hidup. Tapi realita bahwa wanita itu bukan aku, posisi nya adalah wanita lain yang sama sekali aku tak kenal siapa orang itu. Ku kira dia adalah cahaya surga yang juga sedang menunggku perjuanganku serta ikut berjuang untuk mendapatkanku, tapi ternyata aku hanyalah sebuah daun yang sempat dia sentuh tapi terjatuh karenanya dan dia justru pergi seperti angin untuk melalang mencari daun lain dan merekatkannya tanpa putus. 

Air mataku tumpah hanya untuk kejadian itu saja. Seusai acara kami bersalaman dengan mempelai, tapi tahukah? Dia mengacuhkan tatapanku, sementara istrinya amat sumringah bahagia menatapku, padahal kami belum kenal satu sama lain. Aku turun menuju parkiran dengan perasaan tahu diri. Cukup, janji pernikahan itu cukup amat menyakitkan. Pandangan yang kau acuhkan juga cukup buatku remuk. Mungkin itu semua adalah sebuah palu, palu keras untuk buatku tahu diri bahwa aku tak pantas masih mengharap suami orang untuk punya hubungan denganku.

Aku bagai daun jatuh kalau terus merasa begini. Pernikahan itu, janji sakral itu, acuhan pandangan itu, sudah cukup buatku sakit hati. Seperti daun yang berangsur angsur jatuh ke tanah, ditinggal pergi oleh ranting yang sudah tua dan angin yang terbang menjatuhkannya, kini hanya bisa diam diatas dataran pasir sembari menerima keadaan itu. 

Seperti novel yang pernah terbit, daun yang terjatuh tak pernah membenci angin. Aku mencoba menjadi daun yang dijatuhkan, yang jauh dari ratapan cahaya dilangit, yang jauh untuk tak bisa menggapai semua mimpi tentangnya, cahaya kejauhan sana, tapi tetap berusaha untuk tak pernah membencinya sedikitpun.  

Pernikahan itu cukup buat mataku berlinang. Sial aku masuk jebakan dunia batman. Jebakan yang buat hatiku renyah dan kalut air mata tumpah segelintir. Ah aku tak suka hari itu. Percayalah...


Selasa, 22 Mei 2018

Alun alun bandung, ending dari cerita di bandung


Destinasi terakhir untuk wisata terakhir di Bandung adalah alun-alun yang letaknya di pusat kota kehidupan Bandung. Lampu-lampu malam yang gemerlap asal sinar lampion jalanan, lampu-lampu kendaraan mobil motor, dan lampu sorot dari layar tv jalanan menjadi bukti bahwa Bandung masih bernafas hingga kini. 

Pusat kota Bandung adalah bukti bahwa kaki telah berpijak bertamu kemari. Berfoto merupakan yang utama, kebahagiaan ini amat bahagia. Taman dekat masjid besar dengan rumput hijau tua serta hijau muda yang di duduki hampir ratusan orang jadi pusat area bermain yang menyenangkan. Bukan hanya bermain bagi anak-anak dini, sepasang kekasih yang ingin berbincang tapi tak punya lahan juga bisa menepi disana, seperti aku contohnya hahaha. Duh sayang, aku tak memotretnya. Tapi masih ada di file video, seperti ini rupa tamannya dengan tulisan Bandung yang amat besar membentangi luas taman. Cakep bukan.



Ngomong-ngomong, tahukah kalian mengenai tembok bertuliskan 'bumi pasundan'. Itu sudah viral bukan main, tembok dengan tulisan kata indah menjadi pajangan menarik untuk dipakai sebagai pajangan potret seni bergambar dalam kamera, yang nantinya akan di bagikan ke seluruh penjuru media sosial sana. Tak kalah ingin menjadi hits, aku berlari menuju kolong jembatan bumi pasundan tempat orang-orang membidik layar kamera untuk mendapat gambar. Seperti ini hasil yang di dapat


Dibutuhkan perjuangan 45 untuk bisa foto disana. Memang kadang diperlukan perjuangan supaya bisa dapat hasil indah sesuai selera. Bolak balik menyebrang jalan raya untuk ganti-gantian difoto di sudut background tembok bertuliskan bumi pasundan. Walaupun ribet, makan banyak waktu, tapi lelah tak terasa asal bahagia melekat di jiwa. Selalu senang rasanya. Hingga sampai jadilah fotonya. Ini dia aku dan Bumi Pasundan yang viral di media sosial sana. 


Foto bagus sudah didapat, kendaraan kesana kemari lalu lalang masih saja ramai dan belum hilang dari peradaban. Mengartikan kota Bandung masih bernafas. Lagi-lagi tak kunjung padam. Hiruk pikuk kota nya buat ku merindu jakarta, letak jantung ibu kota di kota metropolitan sana. Apa kabarnya disana? Tapi disini rasanya buat ku lebih bernafas bahagia. Jalan kesana kemari dipinggiran jalan, dengan surutnya polusi dan keadaan yang semakin larut justru semakin dingin. Bagai dingin dari kaki-kaki pegunungan. Sungguh tentram disini. Suka sekali. Tapi sayang, hanyalah tamu.

Kalau belum tahu ada di peradaban jalanan sebelah mana, perkenalkan jalanan ini. Nama jalanan ini adalah... 



Mencoba menyebrang jalan melalui jembatan penyebrangan. Senang rasanya bagai jalan-jalan wisata, ya memang itu sebutannya. Melalui atas bisa dilihat mobil motor lalu lalang dengan kecepatan maksimum tinggi. Lampu-lampu jalanan amat ramai menyala, jalanan kota Bandung di malam hari masih saja terang, kota ini masih hidup walau di kota-kota terpencil pedalaman sana sudah tidur penghuninya. Tapi tidak disini, jajanan pun masih ramai padat merayap menjajaki makanannya untuk segera dibeli dan disantap habis. Mereka masih mencari segelintir uang demi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.


Lihatlah itu, aku cinta sekali foto di jalanan ramai kota malam Bandung. Cantik sekali sungguh. Dengan senyum atau hanya memajang diri disana, tak perduli terlihat cantik atau hanya seuntas gambar, tetap cantik ku lihat karena kerlap kerlip jalanan kota malam Bandung. Jauh lebih indah, sama seperti senja yang selalu muncul di ufuk sana. Benar cantik seperti kota malam Bandung. Ah keduanya serupa. 

Pada tembok yang ada tulisan Asia Afrika, dibelakang tembok segitiga berbentuk dengan kepala bumi diatasnya, terdapat tulisan lain yang dikemas dalam bahasa inggris, bahasa umat modern. Bunyinya seperti ini "Let a new Asian and new Africa be born" oleh Sukarno




Senin, 07 Mei 2018

Mba Nana Casual Outfit (long ingredients)

Kembali ke Cas Out atau Casual Outfit selera mba nana uyeee!
Casual Outfit dengan tema long ingredients seperti tulisan diatas artinya bukan semata-mata dengan make "bahan-bahan makanan" yang panjang, melainkan bahan-bahan indomi kain yang panjang-panjang. Bahan kain yang panjang disini enggak sampai jadi sapu lantai kok, hanya panjang menutupi semua aurat malu yang terbuka supaya tidak terlihat oleh mata buaya lirikan dari yang sedang cuci mata, juga supaya tidak kena masuk angin karena akhir-akhir ini cuaca selalu tidak stabil hingga bisa menyebabkan angin masuk ke tubuh. Untuk itu, Casual Outfit kali ini berjenis kelebihan kain. Walaupun ada sedikit bahan yang kekurangan, anggap saja itu bagian dari fashion. Karena fashion itu kadang aneh, seperti mba nana, jadi harap maklum. Hueeee


Jenis Fashion ini gue kenakan saat gue jalan-jalan di perkotaan alur-alur Bandung, tempat outdoor jenis travelling luar ruangan enggak memungkinkan kalau gue harus mengenakan pakaian ramai sana-sini karena bikin menarik perhatian dan selain itu sangat ribet untuk dipakai jalan ditempat luar ruangan, yang pasti bisa bikin hawa jadi panas. So, pakaian simple tapi enggak se-simple datar juga perlu untuk diketahui buat jalan-jalan. Simple and Chic atau simple tapi tetap trendy lah yang gue kenakan kali ini menurut selera mba nana. Ok!

So, From Head to Toe atau From Toe to Head?
Toe to Head is mainstream so we started from Toe to Head


Dari bawah sebagai alas kaki gue menggunakan sepatu. Jenis sepatu ini biasa disebut oleh masyarakat sekalian yaitu sepatu kets. Selain bisa dipakai untuk jalan santai, gue juga bisa berlari dengan kencang disaat situasi kritis. Sepatu kets cocok banget untuk dipakai jenis travel di luar ruangan. Kalau pun jalan di luar sedang mendapat musibah yakni banyak berbatu atau becek, sepatu kets bisa dipakai untuk melompat dari batu satu ke  batu sebrang. Ah asik deh! 


Untuk celana kali ini gue enggak pilih ribet. Gue memilih celana yang bisa digerakin kemanapun luas jenjang kali gue melangkah. Kayang bisa, kaki lebar 180 derajat pun juga bisa. Dia adalah celana legging uye! Selain bahanya yang lentur ketat dan benar-benar mengikuti langkah kaki, kalau pun dipakai juga tidak terasa berat seperti memakai celana jins. Dan kebanyakan, orang-orang yang jogging suka sekali untuk mengenakan legging. Bahannya yang tidak berat bila dipakai menjadi salah satu pilihan gue dalam mengenakan fashion untuk dipakai jalan-jalan di wisata outdoor. 


Untuk atasan, karena gue ingin membuat simple tapi tetap trendy unik, gue memilih atasan crop white atau kaos yang croptee sebagai gaya supaya keliatan unik, dan memilih black outer yang long ingredients atau bahannya panjang hingga ukuran se-paha. Karena kala itu gue sedang jalan-jalannya di malam hari, kalau fashionnya gue buat dengan kondisi gelap, agak sulit bagi gue untuk kelihatan unik. Jadi gue pilih white croptee sebagai objek yang bikin mata tertarik serta ditambah balutan aksesoris yang makin kelihatan chic and trendy.


Melalui latar depan, karena atasan gue hanya putih polos, gue tambahkan riasan kalung colourfull asli bali sebagai aksesoris supaya ada bagian sudut yang menjadi sorotan mata dari fashion yang gue kenakan, yakni pada kalung yang gue ikat di leher. 


Mini ransel bag abu-abu yang selalu memeluk gue dari punggung pun enggak lupa gue bawa. Perjalanan travel wisata di luar ruangan pun juga perlu untuk membawa beberapa barang kebutuhan. Karena itu, gue pilih ransel karena bisa memuat banyak barang dan memudahkan gue untuk jalan-jalan disekitar wisata alun alun. 



Yang terakhir di bagian kepala, gue bentuk rambut menjadi cepolan yang enggak begitu kencang. Dengan jedai yang mengikat dirambut cukup bisa membuat rambut tidak tergerai ke punggung. Sehabis di jedai, sebagai tambahan aksesoris supaya kelihatan chic, gue tambahkan headband atau bandana sebagai riasan di rambut. Headband dengan motif bunga warna warni dengan balutan warna hitam pada latarnya dapat membantu penampilan gue terlihat kasual tapi tetap chic. Kasual tapi tetap ber-colourfull.
Ok so lets see!












Diberdayakan oleh Blogger.

About Me

Foto Saya
Fransisca Williana Nana
Lihat profil lengkapku

Followers

Google+ Followers

total human

Follow Us

BTemplates.com

About Us

Popular Posts

Popular Posts

Popular Posts